Link

Minggu, 25 Januari 2015

Tenang Fahmi, Tenang...!

Dear Dreamers!

Hari ini saya berangkat ke Gymnasium Tsukuba University bersama Pak Amel. Agenda bermain bulutangkis pekan ini pindah ke hari Ahad karena ada jadwal FKMIT kemarin. Kami mejadi orang pertama yang menginjak gymnasium.

Saya meniup-niup tangan saya lalu memeluk tubuh dengan erat seraya merapatkan jaket. Tubuh saya menggigil kedinginan. "Ini perasaan saya aja atau memang hari ini dingin?" tanya saya pada Pak Amel.

"Kalo nggak gerak ya dingin lah, Mi. Cuma sekarang ini suhunya sebenarnya hangat sih, biasanya di bawah 7 derajat. Mungkin puncaknya ntar Februari," kata Pak Amel. "Kalo turun salju lebih seru lagi. Anak-anak pada main salju, kita sih senang-senang aja. Biasanya kalo salju nggak berhenti turun, kantor libur. Soalnya salju kalo udah cair, jalanannya bakal licin, malah bahaya," lanjut Pak Amel.


Kami lalu memasang net sembari menunggu teman-teman yang lain. Saya lalu melakukan pemanasan, setidaknya saya jangan sampai menggigil. Melompat, berlari mengelilingi lapangan, saya lakukan dengan semangat. Tak lama kemudian, satu persatu anggota klub bulutangkis mulai berdatangan. Ada Mbak Siska, Mas Zainal, Mas Risqi, Mas Dendi, dan yang lainnya.

Hari ini saya memulai pertandingan melawan Pak Amel/Mas Risqi, berpasangan dengan Mas Zainal. Tubuh yang belum 'panas' ditambah rasa buru-buru ingin mematikan bola membuat ritme permainan saya agak kacau. Mas Zainal hari ini mainnya keren. Cover lapangannya bagus, smashnya seringkali menghasilkan poin. Saya mencoba bermain sebaik yang saya bisa. Akhirnya kami berhasil memenangkan pertandingan selama tiga game.

Tak lama kemudian, saya dan Mas Zainal kembali turun ke lapangan. Kali ini lawan kami duo 'RnD' (begitu mereka memberi nama diri mereka sendiri, hehehe *Peace Mas); Mas Risqi dan Mas Dendi. Hmm... menurut saya mereka lawan yang sangat berat. Secara permainan mereka sudah padu, sepertinya memang sering berpasangan. Baik Mas Risqi maupun Mas Dendi sama-sama punya power yang bagus.

Error di sana sini masih banyak saya lakukan. Akhirnya kami kalah mudah di game pertama. Di game kedua, saya bermain lebih baik, dan berhasil memaksakan duece. Sayang, saat saya melakukan serve, saya justru melakukan kesalahan fatal. Akibatnya, kami kalah dengan skor nyesek, 22-24.

Dari dua pertandingan yang saya lakoni, saya melihat permainan saya masih terlalu terburu-buru ingin mematikan bola, dan seringkali tidak siap dengan pengembalian lawan. Akibatnya, bola sering nyangkut, out, atau kalah langkah.

Saya masuk ke pertandingan ketiga. Kali ini, berpasangan dengan Pak Zae, melawan Teh Puti dan Pak Dapi. Kali ini saya mencoba bermain lebih rileks. Namun, masih, karena terburu-buru dan sering salah posisi, kami kalah di game pertama. Di game kedua, saya mencoba lebih banyak mengontrol bola, mencoba menyesuaikan posisi dengan lebih baik di lapangan. Alhasil, kami berhasil merebut set kedua. Sayangnya, pertandingan tidak dilanjutkan.

Saya lanjut masuk ke pertandingan keempat. Berpasangan dengan Mbak Fani, kami menghadapi pasangan 'cinta' Pak Amel dan Teh Puti. Kali ini, saya mencoba bermain lebih tenang lagi, tidak mau terburu-buru, dan berusaha mengontrol emosi di lapangan. Alhasil, dari posisi tertinggal 7-11 di interval game pertama, kami berhasil melesat hingga unggul 21-15. Di game kedua, bola banyak diarahkan ke Mbak Fani, ditambah saya yang banyak ketinggalan langkah, membuat kami menyerahkan game kedua untuk lawan yang unggul 21-18.

Di game ketiga, kami kembali tertinggal 6-11. Di posisi ini, saya sudah paham, bahwa saya memang harus lebih gigih meng-cover lapangan, karena secara kemampuan saya agaknya sedikit lebih baik dari Mbak Fani. Dengan posisi tertinggal, saya mencoba bermain dengan tenang sambil terus mencari celah untuk mematikan bola. Perlahan namun pasti, kami mulai mengejar ketertinggalan. Menyamakan kedudukan, lalu berbalik unggul. Hingga akhirnya kami berhasil memenangan set ketiga dengan skor 21-14.

Di titik ini saya mulai menyadari, bahwa sebenarnya permainan saya yang terlalu bersemangat dan meledak-ledak seringkali menjadi bumerang bagi diri saya sendiri. Saya sering menemukan kondisi saat saya sebenarnya merasa lebih unggul dari lawan namun gagal memenangkan pertandingan karena bermain tidak sabaran.

Mas Risqi mengajak saya mengulang duel di pertandingan kedua tadi. Saya mengiyakan lalu bergabung ke lapangan.

"Eh, tukeran partner dong," kata Mas Zainal. "Aku sama Risqi, Fahmi sama Dendi," kata Mas Zainal lagi.

"Eh biar aku aja sama Fahmi," kata Mas Risqi lalu menyeberang net ke tempat saya.

Pertandingan pun dimulai. Saya merasa agak gentar berada di tengah ketiga senior saya. Menurut saya, posisi saya yang paling lemah. Langkah lambat, smash sepoi-sepoi, pertahanan rapuh, sering ngasih bola tanggung pula. Saya juga kerap kali berebut bola dengan Mas Risqi. Belum lagi bola nyangkut atau servis gagal. Aaarrghh... saya sebal juga jadinya.

"Tenang Fahmi... tenang... pasti bisa!" saya menyemangati diri sendiri. Saya mencoba mengontrol emosi saya. Permainan saya membaik, meskipun kami kalah di game pertama, 21-23.

Game kedua saya mulai menemukan kondisi terbaik saya. Saya mencoba untuk terus mengontrol diri agar tidak terburu-buru mematikan bola. Posisi belakang lebih banyak saya serahkan ke Mas Risqi karena cover lapangannya lebih baik dari saya, dan secara power lebih baik untuk mematikan bola. Saya mencoba lebih banyak memberi bola-bola pancingan agar bisa di-smash, atau menginisiasi serangan dari garis belakang agar lawan mengembalikan bola tanggung. Strategi kami berhasil. Kami menang 21-18.

Di game penentuan, baik kami maupun Mas Dendi/Mas Zainal sama-sama banyak melakukan error. Namun sekali lagi, saya menjaga emosi agar tetap bermain tenang. Kalaupun ada kesalahan, saya tidak mau larut memikirkannya dan segera berkonsentrasi. Saya sadar bahwa posisi saya akan banyak diserang karena titik lemah memang ada di saya. Karena itu, saya mencoba untuk selalu siap dengan semua pengembalian yang diarahkan lawan. Saya tidak lagi mementingkan berapa skor saat ini, namun yang terpenting bagaimana agar tetap bermain dengan tenang sehingga bisa menghasilkan poin. Pelan tapi pasti, permainan saya terus membaik. Bola-bola sulit yang tadinya tidak terjangkau mulai bisa diraih. Smash yang tadinya gagal dikembalikan mulai bisa teratasi. Saya lebih berani bermain di depan net, tidak takut bermain belakang dan berusaha terus memberi bola-bola pancingan. Akhirnya, sabetan Mas Risqi yang gagal dikembalikan Mas Dendi menutup pertandingan untuk kemenangan kami, 21-19.

Saya berdiri tidak percaya. Wow, saya menang! Menurut saya ini adalah pertandingan terbaik yang saya lalui selama di Tsukuba. Bukan hanya karena permainan saya dan Kak Risqi yang padu, namun lebih dari itu, hari ini saya berhasil mengontrol emosi dengan baik. Saya tidak mudah terpancing untuk bermain terburu-buru. Saya berhasil melalui pertandingan dengan tenang. Ternyata hal itu membuat permainan saya 'keluar'.

Well, mungkin saya masih banyak kekurangan, terutama dari segi power pukulan. Namun, saat saya bermain tenang, saya menemukan bahwa sebenarnya saya punya permainan yang tidak buruk.

Sebenarnya itulah yang saya perlukan saat berada di lapangan: ketenangan. Saat saya bermain dengan tenang, saya yakin dengan setiap pukulan yang saya lakukan, saya tidak ragu untuk melangkah, dan tidak larut dalam satu kegagalan.

Saya menemukan dua kondisi berbeda saat berpartner dengan Mbak Fani dan Mas Risqi. Saat berpasangan dengan Mbak Fani, saya lebih banyak mengontrol bola karena kemampuan saya sedikit lebih baik, sehingga saya dominan di posisi belakang (umumnya posisi terbaik ganda campuran memang pemain putra di belakang). Namun saat berpasangan dengan Mas Risqi, saya harus percaya bahwa ia akan mampu menjaga bagian belakang dengan baik, sehingga kami tidak berebut bola lagi. Sebaliknya, saya justru harus lebih banyak memberi bola pancingan karena Mas Risqi punya pukulan yang lebih mematikan. Saya belajar bagaimana menempatkan diri dan memberikan kepercayaan penuh kepada partner saya.

Itulah yang seharusnya saya terapkan dalam setiap hal yang saya lakukan. Saya perlu melakukan sesuatu dengan kepala dingin agar dapat menyelesaikan semuanya dengan baik. Saya perlu untuk bisa menempatkan diri dengan baik saat berhadapan dengan orang-orang di sekeliling saya. Ada kalanya saya harus bergerak lebih banyak. Namun, di satu waktu saya harus memberi kepercayaan kepada orang lain untuk bergerak lebih banyak. Dengan begitu, semua hal yang saya kerjakan akan selesai dengan lebih maksimal.

Hari ini saya mendapat pelajaran yang sangat berharga dari sabetan raket di lapangan bulutangkis. Semoga saya bisa konsisten di pertandingan-pertandingan selanjutnya. Semangat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar