Link

Kamis, 29 Januari 2015

Lab Tour

Dear Dreamers!

Langit cerah menemani langkah saya ke kantor pagi ini. Namun di perempatan jalan, kristal es tampak terbentuk di sudut-sudut jalanan. Bahkan ada juga yang membeku di antara rerumputan kering.

Hingga pagi ini, belum ada rencana eksperimen yang akan saya kerjakan, karena eksperimen Luciferase Assay baru usai kemarin. Saya pun merangkum laporan eksperimen pekan ini.

Beberapa saat setelah kemudian, Kohara-san tiba di ruang kerja. Dr. Yamazaki tampak berbincang-bincang cukup lama dengan beliau. Lalu Dr. Yamazaki menghampiri saya. "Fahmi, bagaimana hasil eksperimenmu?"

Saya menunjukkan data yang sedang saya kerjakan di laptop. "Hmm, baiklah. Coba data ini kamu rangkum menjadi format seperti ini," kata Dr. Yamazaki lalu menyerahkan selembar kertas dengan grafik di dalamnya. "Baiklah, akan saya selesaikan," jawab saya singkat.


"Oke. Sekarang kamu ikut Kohara ke lab. Coba kerjakan deteksi efisiensi CpG seperti yang pernah kamu lakukan, namun kali ini menggunakan CpG PT. Kemudian, minggu ini lakukan ELISA dengan IFN-gamma," kata Dr. Yamazaki, lalu meninggalkan saya. Oke, pekerjaan di lab telah menanti.

Usai merampungkan laporan, saya berangkat ke lab bersama Kohara-san. Angin kencang berhembus menyambut kami ketika keluar dari gedung kantor.

"Menurut perkiraan cuaca, besok akan turun salju, dan cukup banyak. Kyou wa ii tenki desu ne (hari ini cuacanya bagus)," kata Kohara-san. Saya lalu memandang langit kota Tsukuba yang biru cerah tanpa awan ditemani terik matahari yang seolah tak mampu menghangatkan udara di sekitar saya.

"Ashita wa dou desuka (besok gimana)?" tanya saya sambil merapatkan jaket.

"Ashita wa tenki warui ne, cuaca buruk."

"Eh, sokka (gitu ya)?" tanya saya heran.

"Mmm. Kalau hari hujan, mendung, atau bersalju, kita menyebutnya 'tenki warui' atau cuaca buruk," jelas Kohara-san.

"Aaaah... ashita watashi wa kasa o motte kimasu (besok saya harus datang bawa payung," kata saya lagi. "Mmm... ngomong-ngomong, Namiki Site itu di sebelah mana ya?" tanya saya, menanyakan salah satu kantor NIMS selain Sengen, tempat saya magang sekarang.

"Namiki? Ah, achi (di sana)," kata Kohara-san lalu menunjuk ke arah barat daya. "Sekitar satu menit dari sini menggunakan mobil," lanjut beliau.

Saya hanya menanggapai dengan gumaman. "Kamu mau ke Namiki? Kalau sempat, ikut saja lab tour yang diadakan NIMS," saran Kohara-san.

"Lab tour?"

"Mmm. Jadi tiap bulan NIMS mengadakan semacam kunjungan ke lab-lab yang ada di NIMS, baik di Sengen, Namiki, maupun Sakura. Dulu Rizky-san dan Febri-san juga ikut. Nanti saya coba tanyakan ke Yamazaki-san," kata Kohara-san.

"Berapa biayanya?" tanya saya antusias.

"Biaya? Ah, tidak. Itu gratis untuk intership student. Tapi sepertinya tidak ditujukan untuk staf. Padahal saya juga ingin ke Namiki," kata Kohara-san.

Saya pun melanjutkan eksperimen. Tak terasa waktu makan siang telah tiba. Kami bergegas kembali ke kantor karena hari ini kami akan makan siang bersama Mr. Arun di kafetaria.

Suasana kafetaria cukup ramai hari itu. Sayangnya, sampai hari ini saya masih menjadi satu-satunya wajah Indonesia yang mengisi ruangan ini, berbaur dengan wajah-wajah orang Jepang, Tiongkok, Korea, India, serta orang-orang berwajah Kaukasia.

Mr. Arun kemudian banyak bercerita tentang makan siang beliau yang bertabur nasi, kemudian bercerita tentang perayaan ritual adat orang India yg baru saja mereka lakukan (waktu itu di Ninomiya, dan saya sempat melihat keramaian di lantai satu). Saya hanya menyimak sambil menyantap nasi goreng versi saya, hehehe *ala Chef Fahmi.

"Di agama saya ada banyak Tuhan. Ada Siwa, Wisnu, Brahma." Entah sejak kapan obrolan kami jadi merambat ke masalah religi.

"Ah, saya tau Shiva (Siwa). Dulu saya pernah mempelajarinya di sekolah dasar dan menengah pertama," komentar Kohara-san.

"Eh, saya juga pernah," kata saya terkejut. Kami lalu tersenyum.

"Bagaimana dengan Tuhanmu?" tanya Mr. Arun ke Kohara-san.

"Mmm..." Kohara-san tampak berpikir. "Mungkin agak rumit. Di Jepang memang masyarakatnya menyembah Budha, namun sebagian besar dari kami mengikuti agama leluhur."

"Shinto, bukan?" tanya saya, mengingat tentang agama menyembah dewa matahari yang banyak dianut masyarakat Jepang.

"Ya, benar. Saya termasuk itu, tapi entahlah, disebut agama juga agak rumit, karena itu seperti tradisi orang Jepang," kata Kohara-san. "Ah, kapan kau berdoa, Arun-san? Ke kuil?"

"Ya, biasanya saya ke kuil, tapi itu hanya saat di India. Tapi di sini, saya berdoa setiap hari di ruangan saya," jawab Mr. Arun.

"Setiap hari? Ahh, sugoi," kata Kohara-san.

"Tapi muslim lebih banyak. Muslim berdoa lima kali sehari, kan?" tanya Mr. Arun lalu melihat ke arah saya. Saya hanya tersenyum mengiyakan. Ranah agama bukan hal yang ingin saya kupas panjang lebar di hadapan mereka.

Usai makan siang, saya melanjutkan eksperimen di lab. Tidak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 17.35. Saya bergegas meninggalkan lab usai eksperimen, mengejar shalat maghrib yang waktunya kian menyempit. Akhirnya saya menghabiskan waktu di praying room hingga waktu Isya tiba.

Usai shalat, saya kembali ke ruang kerja, dan berpapasan dengan Dr. Yamazaki. "Ah, Fahmi. Jangan pulang dulu. Saya ingin bicara sebentar," kata Dr. Yamazaki.

Beliau ingin saya merangkum laporan eksperimen pekan ini. Saya pun mempresentasikan secara singkat data yang saya peroleh selama eksperimen. Dr. Yamazaki kemudian memberi beberapa masukan, serta membahas data-data yang saya temukan dari eksperimen.

"Sejauh ini datanya sudah bagus, artinya CpG dapat memicu peningkatan respon imun, dan memiliki kemampuan untuk berikatan dengan nanopartikel. Selanjutnya, kamu akan melakukan eksperimen dengan sel manusia, tapi dengan sampel berbeda. Ini akan menjadi penelitian yang penting, jadi berusahalah," kata Dr. Yamazaki menatap saya.

"Baiklah, saya akan berusaha sebaik yang saya bisa," saya mengangguk mantap lalu tersenyum.

"Baiklah, itu saja. Oiya, besok kemungkinan ada salju turun. Kamu sudah tau?" tanya Dr. Yamazaki usai membahas eksperimen.

"Ya. Kohara-san sudah memberitahu saya tadi."

"Mmm, baiklah. Oiya, bagaimana rencanamu ke Tokyo?"

"Ah, itu. Saya masih merencanakannya. Mungkin saya akan mengajak teman-teman Indonesia saya, kira-kira akhir minggu di pertengahan Februari."

"Ah, begitu. Jangan lupa ke Asakusa, di sana ada banyak hal menarik. Tempatnya tidak terlalu jauh dari Akiba (Akihabara). Oiya, kalau sempat, mungkin kamu bisa ikut Suwarti ke Tsukuba-san (gunung Tsukuba). Februari adalah puncak musim dingin, pasti akan banyak salju di sana. Biasanya ada kereta one day trip untuk bermain ski. Yaaah, tentu kamu tidak harus bermain ski. Setidaknya menikmati pemandangan di sana, atau bermain bola salju," saran Dr. Yamazaki.

"Ah, baiklah, akan saya ingat. Hmm, sepertinya akan sangat menarik. Terima kasih," ujar saya lalu tersenyum riang.

Tak terasa, jarum jam hampir menunjukkan pukul 20.00. Saya pun pamit pulang. "See you tomorrow," ujar saya lalu menutup pintu.

Itu dia kisah saya hari ini. Wah, saatnya merancang agenda jalan-jalan di tengah agenda lab yang padat, xixixi. Ganbatte!

Shimobashira alias jarum es, pemandangan yang saya lihat di tanah pagi ini (gambar nyomot dari Mbah Google soalnya nggak sempat foto, hehehe).


Good nite ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar