Link

Senin, 05 Januari 2015

A-Z: Jakarta-Tokyo

Dear Dreamers!

Ini tulisan kedua tentang petualangan saya ke Tsukuba. Seperti apa keseruannya? Check list out!

3 Januari 2015, saya tiba di Jakarta. Saya beristirahat sejenak di rumah Pak Zul di BSD, Tangerang, sebelum terbang ke Tokyo tanggal 4 Januari. Sesampainya di Jakarta, Dr. Yamazaki—supervisor saya di NIMS—mengirimkan sebuah email. “A happy new year. I am look forward to see you in Japan. I will pick you up at Tsukuba station. Have a safe flight!

Saya kemudian berangkat ke BSD, Tangerang untuk menginap semalam di rumah Dr. Zul. Ini sudah kali kelima saya menginap di rumah ini, namun untuk pertama kalinya saya menginap seorang diri. Saya sempat berbincang dengan Pak Zul dan Bu Niken setibanya di rumah beliau, terutama mengenai persiapan keberangkatan saya besok. Sesorean itu saya beristirahat dan belanja bebeapa keperluan saya untuk di Tsukuba bersama Bang Iyan. Tak banyak aktivitas. Malam harinya saya hanya merapikan beberapa barang dan beristirahat. Semoga perjalanan besok diberi kelancaran oleh Allah, aamiin.


Hunting barang bareng Bang Iyan

Ahad, 4 Januari 2015

Hari keberangkatan saya tiba. Pukul 09.30, usai mandi, sarapan, dan beres-beres, saya diantar Bang Iyan ke bandara Soekarno-Hatta. Di tengah perjalanan saya menerima telepon dari ibu, kakak, dan bibi saya. Melepas rindu sejenak. Satu jam kemudian, saya tiba di terminal 2 bandara Soetta.

“Makasih banyak ya Bang,” ucap saya sambil menyalami Bang Iyan.

“Jangan lupa kalo foto tag saya di FB ya,” kata Bang Iyan sebelum meninggalkan saya.

Saya bergegas masuk untuk check in. Saat mengantri, saya melihat ada sosok yang tak asing sedang mengantri beberapa baris di depan saya. Setelah menajamkan penglihatan, ternyata itu Pak Hendrawan, Juara Dunia Bulutangkis Tunggal Putra 2001! Beliau bersama istri dan anak-anak beliau. Aaa...niat untuk mengambil gambar bersama sudah saya pegang erat-erat di kepala. Sayang, belum selesai saya mengurus check in, Pak Hendrawan sekeluarga sudah lenyap ditelan kerumunan manusia, hiks. Yaaah, tapi paling tidak pernah melihat sosok beliau dari dekat sudah cukup menyenangkan hati saya.



 Usai check in, saya keluar bandara lagi untuk bertemu kakak saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 saat kami akhirnya bertemu di gate 3. Kami hanya berbincang sejenak, sebelum akhirnya saya pamit masuk karena saya harus masuk pesawat pukul 13.00.

Antrean penumpang mengular di semua meja imigrasi. Setelah lolos bagian imigrasi, saya mencari money changer untuk menukar uang Rupiah saya ke Yen, kemudian menuju ruang tunggu. Pesawat saya sempat delay 20 menit karena alasan cuaca. Akhirnya pukul 14.00, pesawat Garuda Indonesia membawa saya terbang menuju Tokyo, Jepang.

Daripada bosen nunggu delay, hehehe
Pertama kali duduk di penerbangan internasional seorang diri rasanya aneh juga, apalagi saya sederet dengan dua WN Jepang, yang tampaknya sepasang kekasih (beuh... untung aja saya nggak duduk di tengah-tengah mereka. Tanpa diminta juga saya pasti langsung minta tukar tempat, hahaha). Untunglah ada LCD flat di hadapan saya sehingga saya tidak perlu menjadi ‘obat nyamuk’ bagi dua orang di sebelah kiri saya, hihihi.

Penerbangan hari ini cukup nyaman, meskipun beberapa kali mengalami goncangan hebat. Paling terasa saat kami berada di atas daratan Kalimantan Barat, pesawat tiba-tiba seperti ditarik turun, kemudian selang beberapa detik kemudian pesawat seperti terpental ke atas. Masya Allah, saya langsung teringat kecelakaan pesawat yang sedang santer dibicarakan di tv. Saya berusaha tenang dan tetap berdoa. Gara-gara insiden tadi, makan siang saya tertunda hampir setengah jam (padahal pramugarinya tinggal selangkah menuju kursi saya, huhuhu).


Pemandangan dari atas pesawat

Snack malam
Tak banyak hal yang saya lakukan selama hampir 7 jam di atas pesawat, selain menamatkan 2 film (Make Your Move: film terbarunya BoA, dan Me and You versus The World), beberapa serial sitkom, dan mendengarkan lantunan surat Yaasin dan Ar-Rahman yang saya temukan di salah satu fasilitas LCD flat Garuda. Saya lalu tertidur, dan kemudian badan pesawat bergoncang menjejak bumi. Alhamdulillah, saya mendarat di Tokyo.

Proses imigrasi berlangsung cepat. Saya lalu bergegas menuju lobby, mencari tempat istirahat, dan melaksanakan shalat. Lagi, saya harus menguatkan hati beribadah di tengah kerumunan orang yang berlalu lalang di bandara, kendati sudah mencari sudut paling terpencil, namun demikian tak mengendurkan semangat saya dalam menjalankan ibadah sebagai seorang Muslim.


Baiklah Dreamers, sekian dulu cerita saya hari ini. Saya istirahat dulu ya, agenda besok telah menanti. Jangan lupa pantengin terus blog Sumbawa Dream ya. Mata ashita!


Ruang tunggu bandara Internasional Haneda, Tokyo


Tidak ada komentar:

Posting Komentar