Link

Selasa, 13 Januari 2015

Me Around My Lab

Dear Dreamers!

Hari ini saya bekerja seperti biasa. Pukul 09.30, saya dan Yuko-san menuju lab. "Kau tahu tidak, hari ini Yuko-san tidak masuk?" kata Kohara-san membuka pembicaraan.

"Doushite (kenapa)?" tanya saya.

"Putranya sakit, mungkin demam, jadi hari ini dia izin."

Saat hendak memasuki ruang persiapan, Kohara-san menghampiri saya. "Sumimasen, Fahmi-san. Hari ini adalah hari bersih-bersih lab. Bisa bantu saya?"

"Mmm, tentu," saya menutup kembali pintu ruang persiapan dan mengikuti Kohara-san ke arah wastafel. Beliau mengambil kain lap kemudian membasahkannya.

"Tugasmu hari ini adalah membersihkan meja eksperimen, seperti ini," ujar beliau sambil mengelap meja menggunakan kain lap tadi. "Hai, onegaishimasu (tolong ya)," kata Kohara-san.

Saya lalu mengelap semua meja eksperimen di laboratorium. Total ada 9 meja yang saya bersihkan. Tak hanya saya, ada juga Li Koran-san (mahasiswi doktoral dari tim Minowa-sensei) dan Morita-sensei yang sudah lebih dulu membersihkan lab.

Usai membersihkan lab, saya masuk ke ruang kultur sel, kemudian menghangatkan medium untuk passaging cells. Di dalam ruangan ada Li Koran-san yang sedang melakukan eksperimen di clean bench 2, dan seorang pria bule sedang melakukan eksperimen di clean bench 1, sementara Kohara-san juga tengah mempersiapkan eksperimen beliau sendiri.

Saya lalu mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang saya perlukan, mengambil labu kultur sel 293 saya di inkubator, lalu mengecek kondisinya di mikroskop.

"Ini namanya confluent (kondisi saat kultur sel menutupi 80%-90% permukaan labu kultur). Kondisinya bagus, silahkan di-passage," kata Kohara-san usai melihat hasil inkubasi.

Hari ini saya melakukan passaging cells untuk pertama kalinya. Namun berbeda dengan kultur sel dulu, kali ini saya sudah lebih siap untuk nge-lab.

Pukul 11.30 saya usai melakukan passaging cells. Chen-san masuk ke ruang kultur sel. "Ah, Chen-san, how are you? Mau pake clean bench?" tanya Kohara-san.

"Iya. Apakah yang itu sudah selesai?" tanya Chen-san sambil melihat ke clean bench yang sedang saya gunakan.

"Ah, sedikit lagi, saya masih memindahkan medium. Lima menit lagi," kata saya sambil menyiapkan medium untuk eksperimen selanjutnya.

"Mmm, saya pake clean bench yang sana aja," kata Chen-san sambil menunjuk sebuah clean bench yang lebih kecil di sebelah clean bench 2.

"Tapi itu kecil lho. Nggak papa?" tanya Kohara-san.

"Mmm. Saya nggak pake banyak tempat kok," kata Chen-san lagi.

Lima menit kemudian, saya usai melakukan pemindahan medium. Saya lalu mencatat kegiatan hari ini dalam log book.

"Kemarin itu libur apa?" tanya Chen-san sambil menghadap kami.

"Oh, kemarin itu libur untuk orang-orang yang merayakan ulang tahun ke-20," kata Kohara-san.

"Oiya? Kemarin saya lihat banyak orang pake kimono di jalan," kata Chen-san.

"Saya juga. Mereka menggunakan kimono, lalu ke taman dan foto-foto," timpal saya. Hari Senin kemarin di Jepang libur, tapi saya baru tau itu libur untuk memperingati orang-orang yang berusia 20 tahun. Dari Mas Dion, saya tau bahwa usia 20 tahun merupakan usia beranjak dewasa di Jepang. Untuk merayakan itu, biasanya mereka merayakannya dengan menggunakan pakaian tradisional atau minum sake (arak khas Jepang). Bahkan, ada kedai bir di Tsukuba yang memberikan undangan minum bir gratis bagi orang-orang yang merayakan ulang tahun ke-20. Mereka lalu datang mengenakan setelan rapi: kimono bagi perempuan dan jas bagi laki-laki. 

Nah, terkait ulang tahun, ada kebiasaan yang bertolak belakang antara orang Indonesia dengan orang Jepang. Kalau di Jepang, orang yang berulang tahun boleh meminta hadiah apa saja dari orang-orang terdekatnya. Bahkan beberapa hari sebelum ulang tahun mereka ditanyai mau minta hadiah apa, dan orang yang berulang tahunlah yang mendapat traktiran. Kalau di Indonesia, orang yang berulang tahun yang mentraktir. Jadi, kalau di Jepang hari ulang tahun jadi tajir, di Indonesia hari ulang tahun kantong jadi sekarat, hehehe.

Nah, terkait hari libur itu, saya hanya menghabiskannya dengan jalan-jalan ke Tsukuba Science Center (taman sains di Tsukuba, itu pu hanya numpang lewat di depannya, hehehe. Masuknya lain kali aja ya) dan menyelesaikan beberapa tugas.

Jalan-jalan ke Tsukuba Science Center



"Kenapa hanya ada libur untuk orang berusia 20 tahun? Bagaimana dengan kita-kita yang sudah di atas 20? Libur di Jepang itu kayak apa sih?" tanya Chen-san penasaran.

"Ngg... di Jepang itu liburnya sedikit sekali jika dibandingkan negara lain. Jadi, sekarang ini pemerintah sedang menambah hari libur nasional. Saya nggak tau kenapa, tapi saya nggak terlalu suka libur, hahaha," jawab Kohara-san.

"Jadi, apa yang Anda lakukan saat libur?" tanya Chen-san.

"Yaah, hanya mengawasi anak-anak di rumah. Suami saya masuk kerja, jadi saya harus mengawasi mereka sendiri," jawab Kohara-san yang memiliki anak berusia 16 dan 10 tahun.

Chen-san dan Kohara-san lalu banyak membahas masalah keluarga, bagaimana repotnya mengurusi anak, kerasnya perjuangan menjadi ibu rumah tangga sekaligus wanita karir, menjaga anak yang masih kecil, dan hal-hal semacamnya. Saya hanya menyimak penuturan dua orang dewasa di hadapan saya ini.

"Tapi tentu ini tidak berlaku buat kamu, karena kamu belum menikah," kata Kohara-san di akhir perbincangannya, lalu beliau dan Chen-san menatap ke saya.

"Saya? Oh, hahaha," saya tertawa canggung. "Saya bisa belajar banyak dari Anda berdua. Keluarga saya sangat menyenangkan. Dulu, saya sering membuat ulah sehingga orangtua saya marah, karena saya bermain sepanjang hari, lupa belajar," kata saya sambil menatap keduanya. "Mungkin itu yang sedang kalian hadapi sekarang. Saya rasa sepulang dari sini saya harus jadi anak yang baik sehingga orang tua saya tidak akan marah," ujar saya sambil tersenyum.

"Ya, kamu akan menghadapi situasi ini suatu hari nanti, tapi jangan pikirkan kecemasan kami, hahaha," kata Chen-san. Kami lalu keluar lab karena waktu istirahat telah tiba.

"Usai makan siang, kita akan melakukan ELISA. Ada seorang mahasiswa Jepang yang akan bergabung bersama kita hari ini, jadi jam satu kita sudah harus siap," kata Kohara-san.

Saya lalu pamit untuk shalat dulu. Hari ini, untuk pertama kalinya saya tidak seorang diri di praying  room. Suara ketukan terdengar saat saya baru usai meng-qashar shalat dzuhur. Buru-buru saya membuka pintu yang sengaja saya kunci dari dalam. Tiga sosok berwajah Arab muncul tak jauh dari pintu.

"Are you going to pray (apakah kalian mau shalat)?" tanya saya.

"Insya Allah," kata salah seorang di antara mereka lalu masuk ke praying room.

"Sorry I locked the door (maaf tadi saya kunci pintunya)," ucap saya sungkan.

Kami pun berkenalan. Salah seorang dari mereka bernama Ahmed. Mereka bertiga berasal dari Mesir.

"Tadi saya baru meng-qashar shalat Dzuhur, dan ingin saya jama' dengan Ashar, karena sepertinya hari ini saya akan bekerja di lab hingga sore," ujar saya.

"Qashar? Apakah kamu datang dari jauh?" tanya Ahmed. Saya menggelengkan kepala.

"Kalau kamu dalam perjalanan jauh, maka boleh di-qashar dan jama'. Tapi, kalau hanya berada di kota ini, cukup dijama' saja, empat rakaat Dzuhur, empat rakaat Ashar," kata Ahmed menjelaskan.

"Should I repeat my shalat (haruskah saya mengulang shalat saya)?" tanya saya kemudian.

"Repeat is better (mengulang lebih baik)," jawab Ahmed lagi.

Maka saya pun mengulang shalat Dzuhur saya, berjamaah dengan tiga saudara muslim yang baru saya kenal. Alhamdulillah, dari mereka saya mendapat pelajaran baru tentang shalat.

Usai shalat, saya bergegas ke kafetaria. Yoshida-san, Kohara-san, dan Yuka-san telah makan lebih dulu. Saya pun menyantap makan siang saya lebih cepat dari biasanya.

"Ah, kamu membawa sup miso (sup khas Jepang, terbuat dari kedelai fermentasi)?" tanya Kohara-san melihat isi mangkuk bekal saya.

Saya tersenyum lebar. "Ini pemberian dari Dr. Yamazaki."

"Sou (begitu). Oh iya, saya dengar kamu sudah ketemu Suwarti ya?" tanya Kohara-san lagi.

"Ya! Kami bertemu hari minggu kemarin," jawab saya antusias.

"Kalian pergi ke mana?"

"Kami mendapat undangan makan siang di rumah Dr. Yamazaki?"

"Sou nan desuka? Aaa... sugoi (Benarkah? Aaa...hebat)!" Kohara-san menatap terkejut.

"Kohara-san pernah ke rumah Dr. Yamazaki?"

"Belum pernah," ucap beliau singkat. Oh, oke. Saya hanya mengerutkan kening sambil tersenyum kecut.

Usai makan siang, kami segera kembali ke ruang kerja. Saat memasuki ruangan, seorang laki-laki bertubuh tegap sedang berbincang dengan Dr. Yamazaki. Melihat kami masuk, ia langsung berdiri.

"Ah, Fahmi, dia akan ikut melakukan ELISA siang ini," kata Dr. Yamazaki. Saya pun berkenalan dengan laki-laki itu. Namanya Nakagawa.

Saya, Nakagawa-san, dan Kohara-san menuju lab. Kohara-san dan Nakagawa-san lalu berbincang-bincang, kemudian Kohara-san bertanya kepada saya, "Kamu tau GpC?"

"Ng...apa itu sama dengan CpG?" tanya saya lagi.

"Chigau (bukan). Kalau itu yang sering kita gunakan," kata Kohara-san lalu tertawa.

Nakagawa-san lalu menjelaskan kepada saya. "GpC itu jenis kromatografi yang digunakan untuk menganalisis polimer berdasarkan ukurannya."

Saya hanya mengangguk, walaupun tidak terlalu paham.

"Kamu sekarang sedang studi apa?" tanya Nakagawa-san.

"Saya sedang studi S-1 jurusan Bioteknologi. Nakagawa-san kuliah di mana?" ujar saya lalu tersenyum.

"Oh, saya sedang mengambil S-2 di Universitas Tsukuba," jawab Nakagawa-san.

Kami lalu masuk ke lab. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, siang ini kami akan melakukan ELISA. Hari ini kami mempersiapkan plate untuk tes yang diselubungi (coating) dengan capture antibody dalam coating buffer. Adapun sample yang akan diuji adalah sample milik Nakagawa-san.

"Oke, untuk hari ini kita sudah selesai. Besok, kita mulai jam 9 sampai setengah 11. Setelah itu, Fahmi-san, kamu bisa passaging cells untuk RAW cells. Nanti silahkan reservasi clean bench," kata Kohara-san.

Sepulang dari lab, saya banyak berbincang dengan Nakagawa-san.

"Belajar bahasa Jepang dari mana?" tanyanya saat kami berjalan menuju kantor.

"Saya belajar bahasa Jepang sejak di SMA selama tiga tahun," jawab saya.

"Berapa lama kalian belajar bahasa Jepang?" tanya Kohara-san.

"Hanya dua jam pelajaran seminggu, jadi tidak lama," ucap saya sambil tersenyum.

"Tapi bahasa Jepangmu bagus lho. Orang Jepang belajar bahasa Inggris sejak SMP hingga SMA, lalu perguruan tinggi, tapi tidak banyak yang bisa berbahasa Inggris dengan baik," kata Nakagawa-san.

Pembicaraan kami terus berlanjut hingga di ruang kerja.

"Apakah ini riset Anda untuk ujian akhir?" tanya saya lagi.

"Ya, begitulah. Dan ujian saya bulan Februari,"

"Hah? Wah, sebentar lagi ya," kata saya terkejut.

Nakagawa-san tertawa. "Begitulah. Karena itulah hasil eksperimen ini akan sangat menentukan."

"Baiklah kalau begitu, semangat ya!" ujar saya lalu mengepalkan tangan dan tersenyum.

Well, itulah kira-kira kisah saya hari ini. Sampai ketemu di kisah selanjutnya :)

Kue coklat pemberian Kohara-san

Tidak ada komentar:

Posting Komentar