Link

Kamis, 08 Januari 2015

Rekan Baru dan Sepeda Gratis

Dear Dreamers!

Hari ini, saya dan Kohara-san akan melakukan passaging cell; proses memindahkan sel yang telah dikultur ke medium yang baru untuk memperpanjang masa hidup sel. Kami sedang berbincang-bincang saat Yoku-san datang. Saya kemudian melanjutkan membaca-baca beberapa manual, sementara Yoku-san dan Kohara-san masih berbincang-bincang. Kemudian seorang wanita muda memasuki ruangan. Saya baru pertama kali melihatnya. Ia kemudian terlibat perbincangan dengan Kohara-san dan Yoku-san. Tak lama kemudian, Kohara-san meminta saya memperkenalkan diri.


"Hajimemashite. Watashi no namae wa Fahmi desu. Indonesia kara kimashita. Douzo yoroshiku onegaishimasu (Perkenalkan. Nama saya Fahmi. Saya dari Indonesia. Senang bertemu dengan Anda)," ujar saya sambil menunjukkan kartu nama saya.

"Hai, watashi wa Yoshida desu. Douzo yoroshiku (Ya, nama saya Yoshida. Senang bertemu Anda)," jawab Yoshida-san.

Pukul 09.30, saya dan Kohara-san, dan Yoku-san berangkat ke lab. "Kohara-san, saya lihat hasil pengukuran mikropipet saya kemarin ada yang tidak beres. Boleh nggak saya minta tolong cek hasil saya?" tanya saya saat di jalan.

"Mmm. Yamazaki-san sudah memberitahu saya. Coba perlihatkan saya mikropipet dan mikrotips mana yang kamu gunakan," kata Kohara-san

Sesampainya di lab, saya memperlihatkan mikropipet 10P yang saya gunakan kemarin. Kohara-san memeriksa mikropipet dan mikrotips yang saya gunakan. "Hmm...ini benar sih..." ia masih berpikir sambil mondar mandir. Tiba-tiba ia berhenti. "Ah, wakarimashita!," Kohara-san mendekati saya.

"Ini berapa mikroliter?" tanya Kohara-san sambil memperlihatkan angka yang tertera di mikropipet.

"5 mikroliter," jawab saya.

"Aaah, itu dia! Okay, look. Angka merah ini merupakan koma. Jadi, ini adalah 0,05 mikroliter. kalau 5 mikroliter seperti ini," ujar Kohara-san sambil memutar-mutar plunger atau pendorong mikropipet dan menunjukkan volume 5 mikroliter yang benar.

"Aaa, so nan desu ka (Aaa... begitu ya)," ujar saya sambil mengangguk-angguk. Pantas saja hasil pengukuran saya aneh. Mikropipet di sini memang sedikit berbeda dari yang saya gunakan di Indonesia, dan sayangnya saya baru menemukan keterangan di modul setelah kembali ke kantor.

Mikropipet di NIMS (source: google.com)
Saat melihat hasil kultur sel kemarin, Kohara-san berkata, "Hari ini kita tidak bisa melakukan passaging cell. Jadi, rencananya kita rubah. Besok kita passaging cells, dan hari ini kamu bisa mengulang pengukuran mikropipet. Hari ini kita ganti mediumnya saja dengan yang baru," kata Kohara-san sambil mempersiapkan medium dan kultur sel kemarin. Pintu ruang persiapan terbuka. 

"Aaah, selamat pagi," Mr. Chen menyapa kami lalu duduk di komputer dekat saya. Sambil Kohara-san menyiapkan clean bench, kami bertiga berbincang-bincang tentang Jepang.

"Kapan kau akan kembali ke Taiwan?" tanya Kohara-san.

"Aaah...awal bulan depan aku akan kembali, huhuhu," jawab Mr. Chen dengan ekspresi lucu. Kami ber-'uuu...' ria untuk sejenak.

"Jangan lupa kembali ke sini ya. Oh iya, kemarin saya lihat di tv, di Taiwan masakan Jepang sangat terkenal ya?" kata Kohara-san lagi.

"Ah, benar. Di Taiwan, masakan Jepang sangat terkenal dan ada di mana-mana. Saya juga sehari-hari makan makanan Jepang bersama istri," kata Mr. Chen. "Aaa...bagaimana dengan Indonesia?" tanya beliau kemudian.

"Ah, di Indonesia, masakan Jepang juga sangat terkenal. Misalnya sushi, sashimi, takoyaki, dan tempura. Saya suka semuanya, selain sashimi. Mmm, tapi kalau sashimi salmon saya suka, rasanya enak. Nah, kalau yang tunaaa..." saya memasang ekspresi tidak enak, dan kami tertawa. "Yaaah, rasanya masih sedikit amis," ujar saya lagi.

"Bagaimana dengan ramen?" tanya Kohara-san.

"Sebenarnya ramen juga terkenal, tapi sedikit berbeda dengan di Jepang, di Indonesia ramennya bebas dari butaniku (daging babi)," jawab saya.

"Aaah...orang Indonesia tidak bisa makan daging babi?" tanya Mr. Chen terkejut.

"Kebanyakan seperti itu," jawab saya. Kemudian kami melakukan aktivitas masing-masing. Saya berkonsentrasi memperhatikan Kohara-san mengganti medium.

Waktu baru menunjukkan pukul 11.10 saat kami usai bekerja di lab. Saya pun minta izin mengulang uji operasi mikropipet saya. Tepan jam makan siang, kami kembali ke kantor.

Siang ini, kafetaria kembali ramai. Saya dan Kohara-san sudah ditunggu Yuko-san dan Yoshida-san di meja depan tv. "Itadakimasu (selamat makan)," ucap kami berempat sambil menyantap hidangan masing-masing.

"Aaah, Kohara-san. Ini adalah lauk yang saya bawa dari Indonesia, dari gyuuniku (daging sapi). Douzo (silahkan)," ujar saya sambil menyodorkan kotak bekal saya berisi nasi putih dan abon sapi ke arah Kohara-san, Yoshida-san, dan Yuko-san.

"Mmm...oishii (enak)! Dulu Suwarti juga pernah memberi saya ini," kata Kohara-san, dan diangguki Yoshida-san.

"Rasanya gurih, dan sedikit pedas. Ini enak," kata Yoku-san lagi.

Usai makan, saya kembali menyodorkan sesuatu ke mereka bertiga. "Ini permen dari susu sapi, saya bawa dari Sumbawa. Silahkan dicoba," ujar saya.

Ketiganya mengambil dengan wajah antusias.

"Mmm....benar-benar seperti mengunyah susu! Oishii desu ne," kata Kohara-san girang.

"Aromanya sangat kuat, enak sekali," komentar Yoshida-san.

"Mmm....ini dari susu dan karamel ya? Sangat manis. Fahmi-san, saya rasa orang Jepang akan sangat menyukai ini, karena orang Jepang suka makanan yang manis," kata Yoku-san.

"Ahh, seharusnya saya bawa lebih banyak ya," kata saya lagi lalu tertawa kecil.

"Apa kau terbiasa memasak sendiri? Memasak di sini sulit tidak? Pasti banyak makanan yang tidak bisa kamu temui di sini," tanya Yoku-san.

"Mmm, tidak terlalu sering sih. Tapi tidak terlalu sulit, saya tidak apa-apa," jawab saya sambil tersenyum.

"Kamu tau sake (arak Jepang) kan? Kebanyakan makanan di sini, selain menggunakan butaniku, juga dicampur dengan sake. Itulah kenapa kami tidak merekomendasikan makanan di kafetaria," kata Yoku-san, diiyakan Kohara-san dan Yoshida-san.

Kami lalu kembali ke ruang kerja. Saat itu, Kohara-san mencegat seorang perempuan di hadapan kami, lalu mengarahkan pandangan ke saya. "Hai, dari Indonesia ya?" sapanya hangat. Sekilas wajahnya mirip orang Jepang.

"Iya, saya dari Indonesia. Nama saya Fahmi, salam kenal," kata saya sambil menunjukkan kartu nama. Alhamdulillah, akhirnya ada orang Indonesia juga yang saya temui di kantor Sengen.

"Hai, nama saya Novi. Saya tugas di kantor Sengen lantai 2. Salam kenal ya. Oh iya, ntar saya email ya, email kamu pasti udah terdaftar sebagai pekerja di sini, ntar saya cari," kata Mbak Novi ramah. Kami pun berpisah usai bertukar sapa.

Kami kembali ke ruang kerja, lalu saya pamit shalat. Sekembalinya dari praying room, Dr. Yamazaki menghampiri saya. "Siang ini kamu coba kultur sel seperti yang dilakukan Kohara kemarin, tapi dengan sel yang berbeda. If you make any mistakes, that's okay (kalau kamu bikin kesalahan, nggak papa)," kata beliau lalu memberikan selembar kertas ke Kohara-san. Saya pun segera mereservasi clean bench untuk pukul 14.00, lalu kami bergegas ke lab.

Kami bertemu Mr. Arun yang juga hendak ke lab. "Arun-san, apakah Anda mengambil kelas bahasa Jepang?" tanya Kohara-san.

"Ya, baru saja berlangsung kemarin. Pelajaran saya kemarin ichi, ni, san (satu, dua, tiga)," jawab Mr. Arun. Kohara-san lalu menggumam sambil menyanyikan lagu tentang angka. "Bagaimana denganmu?" tanya Mr. Arun kepada saya.

"Mmm...? Ah, sebenarnya sih kepingin, tapi saya ada pekerjaan lain," jawab saya sekenanya.

"Tapi bahasa Jepangmu bagus kok," kata Kohara-san lagi.

"Aaa...mada mada desu ne (tidak terlalu)," jawab saya lagi.

"Jadi, sekarang kamu mengambil studi master?" tanya Mr. Arun lagi.

Saya pun menceritakan dari awal bagaimana saya bisa 'terdampar' di NIMS, mulai dari kedatangan Dr. Yamazaki ke Sumbawa hingga saya terpilih mengikuti program ini.

"So, you're too young here (kamu masih muda sekali untuk bisa di sini," Mr. Arun menanggapi cerita saya.

"Yup, begitulah. Saya sendiri masih tidak menyangka bisa di sini," kata saya sambil tersenyum.

"Saya dan Kohara-san memasuki lab kultur sel, menyiapkan material eksperimen, dan membersihkan clean bench.

"Saya sangat takut kontaminasi, jadi berhati-hatilah," kata Kohara-san.

Saya pun memulai eksperimen saya dengan sterilisasi clean bench menggunakan alkohol, kemudian membuat medium, menambahkan medium ke dalam tabung kecil berisi sel, sentrifugasi (pemisahan partikel dalam larutan untuk menghasilkan endapan dan cairan bening), membuang supernatant (cairan bening hasil sentrifugasi), kemudian menambahkan medium ke pellet (endapan hasil sentrifugasi), lalu menaruh larutan ke labu kultur sel, melihat sel di mikroskop, dan menyimpannya ke inkubator semalam suntuk (overnight).

Sepanjang eksperimen, berkali-kali Kohara-san mengatakan 'okay', 'enough' (cukup), dan 'daijoubu' (tidak apa-apa) saat melihat saya terlalu berhati-hati menuangkan atau memindahkan larutan. Saya memang sangat tegang, karena ini pertama kalinya saya melakukan eksperimen di lab ini, dan pertama kalinya menyentuh lab seperti ini lagi sejak iGEM berakhir.

Usai keluar dari lab, saya menghampiri Kohara-san. "Kohara-san, doumo sumimasen. Watashi wa kinchou deshita kara, this is my first time to do experiment in this lab (Kohara-san, maaf sekali ya. Tadi saya tegang sekali, karena ini pertama kalinya saya melakukan eksperimen di lab ini)," ujar saya dengan wajah panik.

Kohara-san melihat saya dengan terkejut, lalu tertawa. "Fahmi-san, daijoubu desu ne, daijoubu desu ne (Fahmu-san, nggak papa kok, nggak papa)," ujarnya sambil menghibur saya. Morita-sensei yang melihat kami ikut tertawa. Kohara-san lalu berbicara dengan Morita-sensei. Saya sempat menangkap kata 'kawaii' (imut/lucu) diucapkan Kohara-san, kemudian mereka menatap saya sambil tersenyum, seolah mengatakan 'udah tenang aja, kalo eksperimennya gagal bisa diulang lagi besok.'

Saya dan Kohara-san pun pamit, kemudian kami saling mengucapkan, "Otsukare sama deshita (Anda telah bekerja keras) dengan Morita-sensei sebagai salam berpisah.

Keluar dari lab, saya melihat gambar 4 sosok gadis cantik terpajang di sudut pintu vending machine (mesin pendingin minuman). "Sore wa AKB48 ii desuka (itu benar nggak AKB48)?" tanya saya. Kohara-san mengangguk, kemudian terdengar suara dari belakang kami.

"Aah, AKB48? You know (kamu tau AKB48)?" tanya Minowa-sensei.

"Ah, Minowa-sensei! Hai, AKB48 ga suki desu (iya, saya suka AKB48)," jawab saya sambil tersenyum.

"Kalau begitu kamu harus ke Akihabara," kata Minowa-sensei lagi.

"Hopefully," kata saya sambil tersenyum.

Saya lalu melihat ke arah Kohara-san, kemudian menghadap Minowa-san lagi. "Sensei, sumimasen. Osaki ni shitsurei shimasu (Sensei, maaf, kami permisi dulu)," kata saya sambil membungkukkan badan.

Minowa-sensei terkejut. "Kamu belajar bahasa Jepang?" tanya Minowa-sensei.

"Hai, saya belajar bahasa Jepang saat SMA,"  jawab saya lalu tersenyum.

"Aah. Kamu tau, orang Jepang belajar bahasa Inggris dari SMP dan SMA, tapi bahasa Inggrisnya masih belum bagus. Bahasa Jepangmu bagus," kata Minowa-sensei.

"Ah, tidak. Bahasa Inggris orang Jepang bagus kok. Iie, mada-mada desu ne. Watashi wa takusan benkyoushitain desu ne (Tidak, belum begitu bagus. Saya harus belajar lebih banyak lagi)," ujar saya  lagi. Kami lalu berpisah usai mengucapkan 'Otsukare sama deshita'.

Sesampainya di kantor, Kohara-san pamit pulang. Ia memberikan sesuatu ke saya. "Ini hadiah, tapi saya tidak tau dari siapa. Tapi tenang aja, ini aman dimakan. Hai, see you tomorrow," kata Kohara-san lalu menutup pintu.

Hadiah pemberian Kohara-san
Tak lama kemudian, Dr. Yamazaki menghampiri saya. "Fahmi, bagaimana eksperimen kultur sel-mu tadi siang?"

"Ah, semuanya lancar. Hanya saja, saya sangat tegang tadi, karena ini pertama kalinya saya melakukan eksperimen di lab ini," jawab saya sungkan.

"Ah, that's okay. Selama dua pekan ini kamu mengikuti training dari Kohara-san. Jadi, silahkan belajar yang serius dari dia. Pekan depan ia akan mengajarimu ELISA (tentang ELISA lihat di sini). Setelah itu kamu akan ada project tersendiri yang harus dikerjakan. Jadi, belajarlah yang baik. Okay, saya tinggal dulu ya, saya masih ada pekerjaan," kata Dr. Yamazaki lalu meninggalkan saya.

Saya lalu membuka email, ada email masuk dari Mbak Novi. 'Hai Fahmi, ini aku Novi yang tadi, salam kenal ya. Kalo ada yang ingin ditanyakan seputar kehidupan di Tsukuba tanyain aku aja ya', kira-kira begitulah isi email Mbak Novi. Senang rasanya ketemu orang Indonesia lagi. Rasanya saya tidak akan merasa terasing berada di Tsukuba. Saya dikelilingi banyak orang hebat dan menyenangkan.

Pukul 18.00, saya meninggalkan kantor. Di depan gerbang, seorang pria tinggi telah menanti saya. Beliau adalah Pak Cepi. Wah, senangnya bisa ketemu beliau. Saya sudah membuat janji ketemu beliau sore ini untuk meminjam sepeda. Alhamdulillah, saya dikasih sepeda gratis. "Maaf ya kalo nggak terlalu bagus. Di sini semuanya ngurus sendiri, pompa, tambal ban. Di Ninomiya ada kok peralatannya. Besok pagi kamu daftarin sepedanya ke kantor Ninomiya, kalo nggak didaftar ntar nggak diterima sepedanya," kata Pak Cepi.

"Nggak Pak. Ini udah lebih dari cukup. Terima kasih banyak," kata saya sumringah.

Oh iya, Pak Cepi ini mahasiswa doktoral yang sedang riset di NIMS Namiki. Beliau sudah 4 tahun di sini, dan mungkin akan kembali ke Indonesia pertengahan tahun ini.

Kami lalu bersepeda ke Marumo, supermarket makanan, kebetulan saya ingin beli minyak goreng. "Berapa utang saya, Pak?" tanya saya usai Pak Cepi membayar belanjaan kami.

"Udah, itu ambil aja. Oh iya, ini buat kamu," kata Pak Cepi sambil menaruh sebungkus lauk goreng di keranjang sepeda saya.

"Aah, terima kasih Pak. Maaf saya jadi ngerepotin," ucap saya sungkan.

"Udah, nggak papa. Oiya, besok kalo bisa kita jumatan bareng Pak Alfian aja, beliau punya mobil. Masjid di Tsukuba agak jauh. Kamu ijin dulu aja ke sensei-mu. Saya jarang jumatan soalnya sensei saya galak, hehehe," kata Pak Cepi. Beliau mengantar saya sampai parkiran Ninomiya House di lantai dasar.

"Sekali lagi makasih banyak ya Pak," ucap saya.

"Iya sama-sama. Saya pamit dulu ya. Assalamu'alaikum," kata Pak Cepi meninggalkan saya.

"Wa'alaikum salam." Saya lalu naik ke lantai tiga menuju kamar saya.

Subhanallah, banyak sekali kebaikan yang Allah berikan hari ini. Teman baru, makanan gratis dan halal, dan sepeda! Aah, saya benar-benar bersyukur atas kemudahan yang telah Allah berikan. Mungkin ini juga bantuan yang Allah berikan dari semua orang di luar sana yang selalu mendoakan saya selama di sini. Alhamdulillahi rabbil 'alamin...

Well, hari ini saya belajar tentang budaya menghargai. Orang Jepang sangat menghargai setiap usaha dan kerja keras orang lain, sekecil apapun itu. Mungkin ini salah satu poin yang membuat bangsa Jepang sangat maju, karena setiap orang merasa diakui hasil jerih payahnya, sehingga semua orang termotivasi untuk terus melakukan pekerjaan yang lebih baik dari hari ke hari. Semoga budaya ini juga bisa ditingkatkan di Indonesia. Siapapun berhak untuk dihargai dan diakui kerja kerasnya, selama ia berkontribusi dalam kemajuan pembangunan, apapun bidangnya.

Oke Dreamers, sekian dulu kisah dari saya. Dewa mata ashita!

Sepeda pemberian Pak Cepi
Lauk goreng siap saji dari Pak Cepi. Makasih banyak Pak!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar